Dalam dunia tenis – seperti dalam hidup – kita bukan hanya bertarung dengan lawan di seberang net, tapi juga dengan suara-suara di dalam kepala kita sendiri. Robert Lindstedt, salah satu pemain ganda terbaik dunia, membagikan pandangan menarik soal emosi negatif, khususnya kemarahan , dan bagaimana ia bisa menjadi pedang bermata dua di lapangan. 🎾 Marah Boleh, Tapi Jangan Jadi Mesin Marah Kita semua pernah merasa frustrasi saat servis gagal terus, atau ketika lawan bermain terlalu sempurna. Dan itu wajar. Tapi menurut Lindstedt, marah itu boleh asal tidak jadi bahan bakar utama. Justru, kemarahan bisa dimanfaatkan sebagai pemicu fokus dan intensitas saat latihan. Misalnya, rasa kesal karena permainan sebelumnya bisa mendorong kita untuk latihan lebih keras dan lebih disiplin. “Anger can be a motivator to help you focus more and increase intensity in practice, but it can’t be the only force that drives you.” 🧠Suara Hati yang Harus Lebih Kuat Hal terpenting adalah baga...
Pemain Tennis Rekreasional. Mengumpulkan orang untuk berlatih di Hobi Tennis Bogor